Kenikmatan dari Menunda Kesenangan

7 09 2011

Ketika banyak blog mencoba memberikan inspirasi, Saya teringat akan pagi dimana saya membolak-balik harian lokal di kota saya. Saya mendapati sebuah artikel yang cukup menarik untuk saya baca. Isinya kurang lebih menceritakan gaya hidup orang Tionghoa yang menginspirasi saya untuk mengikuti jejak bisnis mereka. Berikut artikel lengkapnya.

Jika ngrasani kisah sukses bisnis di negeri ini, tentu  identik pada komunitas Tionghoa. Hampir di semua bidang dan tingkatan, pencapaian sukses mereka tak terbantahkan lagi. Fakta tersebut patut menjadi renungan kita semua karena pencapaian tersebut tentu ada sebab prosesnya. Tidak jatuh begitu saja dari langit seperi gerimis. Sebenarnya, apa sih hebatnya orang-orang Tionghoa? Untuk menjawab pertanyaan macam itu, seluruh halaman koran ini pun takkan cukup untuk menjabarkannya.

Namun, saya akan mengupas satu jurus ampuh yang biasa digunakan komunitas Tionghoa, yakni jurus menunda kesenangan. Kalimat “menunda kesenangan” memang amat mudah diucapkan, akan tetapi tidak terlalu mudah penerapannya. Godaan segera menikmati kesenangan adalah hal manusiawi. Siapa sih yang tidak ingin senang? Namun, apalah artinya kesenangan jika harus ditebus kepahitan dalam jangka lama atau setidaknya harus mengorbankan kemungkinan pertumbuhan yang lebih baik.

Orang Tionghoa yang sukses amat memegang teguh pemahaman itu. Terutama yang generasi “tua”. Hal itu tidak lepas dari sejarah nenek moyang mereka mengarungi samudera luas untuk merantau ke segala penjuru dunia dengan tekad untuk memperbaiki taraf hidup. Dengan segala keterbatasan, mereka tertatih-tatih mengayun langkah untuk menggapai kehidupan yang lebih baik. Jurus menunda kesenangan menjadi andalan mereka.

“Lho, bukankah justru komunitas Tionghoa banyak yang gaya hidupnya mewah?” Bisa jadi pendapat itu benar, namun orang-orang yang bergaya hidup seperti itu kebanyakan sudah berada pada titik aman (passive income alias pendapatan yang “dating sendiri sebagai hasil kerja keras – lebih besar daripada biaya hidup), hingga merasa layak untuk menikmati hidup. Tentu tidak semua orang Tionghoa bisa menerapkan jurus ini. Tak sedikit pula yang salah dalam menghitung momentum yang tepat untuk mereguk kesenangan.

Dalam banyak kasus, rasionalitas kita sering terdesak oleh pertimbangan emosional. Lebih-lebih jika dipengaruhi kebutuhan pengakuan/pujian dari orang lain. Ingin tampak mapan padahal masih belum mapan. Ketika penghasilan bertambah besar, keinginan untuk memiliki barang mewah(konsumtif) juga turut membesar. Bahkan, tidak ragu mengambil kredit. Tidak terlintas ide untuk mengembang biakkan penghasilannya terlebih dahulu., lantas membeli barang konsumtif dari hasil ternak uangnya.

Banyak pelaku bisnis juga tidak mampu menerapkan jurus itu. Saya pun amat susah payah menjalankannya. Ketika bisnis mulai lancar, dorongan segera menikmati kesenangan sering tak tertahankan. Akibatnya, pertumbuhan bisnis tersendat karena profit yang seharusnya menambah modal dilarikan ke arah konsumtif.

Saya pernah dinasehati seorang lao pan(kaya raya): langkah paling aman untuk menikmati kesenangan adalah dengan anggaran tak lebih dari 10 persen dari total aset/uang yang dimiliki. Dengan pola itu maka akan aman dan tidak perlu menanggung opportunity loss karena 9o persen assetnya masih dapat digunakan untuk hal produktif.

Fakta yang sering terjadi adalah sebaliknya, banyak orang yang memiliki tabungan Rp. 30 juta justru membeli mobil seharga Rp. 150 juta. Kredit menjadi solusi paling mudah. Prinsip “nikmati sekarang, cicil belakangan” amat mendominasi pola pikir orang –orang yang menempuh langkah ini. Mereka tidak sadar jika telah menggadaikan masa depannya untuk kesenangan masa kini. Membeli kesenangan dengan dengan skema kredit bukan keputusan salah jika beban anggarannya tidak memberatkan keuangan keluarga dan tidak menghambat upaya investasi/ ternak uang.

Meski bukan monopoli uang Tionghoa, jurus menunda kesenangan amat mengakar dan diwariskan turun temurun di komunitas mereka. Bahkan ada yang sampai kebablasan dalam penerapannya. Saya pernah mendengar kisah nyata seorang Tionghoa kaya raya di suatu kota, ia membangun bisnisnyadari nol hingga konon memiliki deposito triliunan rupiah. Ketika ia sakit parah hingga kesadarannya melemah, anak-anaknya menginginkan perawatan terbaik dengan mengirimnya ke Mount Elizabeth Hospital Singapura. Ketika kondisinya membaik, ia marah besar saat tahu jika dirawat di Singapura. Apa yang membuatnya marah? Karena biaya rumah sakit, yang hanya seujung rambut kekayaannya, dianggap mahal!

Saya dan anda tentu tidak sependapat dengan pemikiran orang tua kaya raya tersebut. Karena dia telah terjebak dalam keadaan “mendewakan uang”, hingga amat pelit unuk menggunakan uangnya. Walaupun kaya, orang semacam itu sama saja dengan orang miskin, karena tidak pernah menikmati kekayaannya.

Lantas, bagaimana caranya agar tidak terjebak dalam situasi “menggadaikan masa depan” dan tidak pula terjerat dalam “mendewakan kekayaan”? ada yang disebut dengan “alokasi kesenangan”. Terjemahan sederhananya adalah kita harus bisa menuda kesenangan dan disiplin mengalokasikan kekayaan untuk investasi. Sebagian hasil dari investasi itulah yang digunakan untuk menikmati ke_se_nangan.

Jadi, kesenangan yang kita nikmati makin nyaman karena jaminan hidup kita aman.(*)

*)Suwandono adalah pengusaha properti dan penulis novel Lian Nio, kisah nyata tentang perjuangan keluarganya dalam menunda kesenangan. (Bisa disapa di: nihaoma.radar@gmail.com)      

Sumber: Suwandono. Kenikmatan dari Menunda Kesenangan. Radar Malang edisi Minggu 15 Mei 2011

Semoga artikel yang disajikan membawa inspirasi bagi kita semua. “Bahwa kesuksesan tidak hanya dimiliki oleh beberapa orang saja, semua orang dapat menjadi sukses asal didukung kemauan keras dan ambisi yang terkontrol.”

Have a nice day!😀


Actions

Information

3 responses

11 09 2011
eross.delta

Dalam prespektif saya, sepertinya saya akan lebih setuju jikalau dikatakan sebagai terus sabar, istoqmah, optimis, ikhtiar dan berserah. Hehe

11 09 2011
dandy0day

Dalam bahasa lain, manajemen ketika kita sukses maupun belum sukses itu sangat penting. Dimana kita membelanjakan pengeluaran seperlunya tanpa ada niatan untuk berfoya-foya dengan kondisi kita yang terbatas.

24 09 2011
Bahagia itu Pilihan « PlongPlongan

[…] Kebahagiaan dengan harta yang kita miliki dapat kita capai apabila kita senantiasa bersyukur dengan apa yang kita miliki. Jangan pernah berambisi memiliki sesuatu apabila kondisi tidak memungkinkan. Kita tahu bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak pernah puas. Sekali tahu suatu benda yang baru, maka dia akan berusaha memilikinya. Tak salah memang punya keinginan kuat, namun lebih baik kita pandai-pandai mengukur kemampuan sendiri. Hiduplah penuh perhitungan dan tidak mendewakan materi. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: